Endless love

 For I am convinced that neither death nor life, neither angels nor demons,neither the present nor the future, nor any powers,  neither height nor depth, nor anything else in all creation, will be able to separate us from the love of God that is in Christ Jesus our Lord.

Rome 8 : 38-39

Lately, saya lagi senang banget nonton drama romance unyu-unyu. Bukan berarti sebelumnya ga suka, namun akhir-akhir ini saya jadi lebih memilah-milah dan hanya menonton dengan unsur romance dengan kadar keunyuan tingkat tinggi. Mungkin karena usia yang sudah menjelang 30 dan belum diberi kesempatan merasakan keunyuan tersebut (fiuh! hembus nafas panjang). Kalau kata orang korea 대리 만족 (daeri manjok) alias vicarious satisfaction. Anyway, definisi saya soal cinta lagi berkaitan dengan kata unyu dan romantis. I mean, women all over the world can’t resist the power of romanticism and sweetness right??

Pagi ini saya agak terlambat keluar dari kamar untuk berjalan keluar dan menunggu jemputan mobil gereja di depan kampus. Alasannya satu : morning call dari kamar mandi. Karena waktu siap-siap yang minim, saya memutuskan untuk tidak memakai make up lengkap hari ini seperti biasanya. Saya cuma memoleskan bedak tipis dan gincu ala kadarnya sambil memasukkan barang-barang ke dalam tas yang akan saya bawa ke gereja. Saya berjalan ke depan kampus sambil berjanji “lain kaliii bangun lebih pagi.. supaya bisa antisipasi morning call” Tapi sepertinya Tuhan menyiapkan sesuatu yang lebih dari sekilas wajah tak bermake up (tebal) hari ini.

Mobil gereja hari ini sama seperti biasanya diisi oleh oma opa (kakek nenek- bukan oppa). Saya seperti biasa duduk di pojok belakang mobil gereja dan seperti minggu-minggu sebelumnya di sebelah saya duduk seorang kakek yang selalu ramah menyapa dan menyalami saya tiap kali di menaiki mobil gereja. Hari ini dia menunjukkan kepada saya beberapa foto di telepon genggamnya. Foto yang pertama adalah foto sebuah makam dengan bunga cantik di sebelahnya. Saya menoleh ke arah si kakek, bertanya tanpa mengeluarkan suara. Dia menjawab “makam istri saya”. Dia menggerakkan tangannya di telepon genggamnya, menggeser foto pertama ke foto berikutnya. Foto kedua, foto seorang wanita separuh baya befoto diantara bunga-bunga. “Ini istri saya” katanya menjelaskan. Saya berkomentar “wah cantik yaa”. Komentar yang lazim diucapkan semua orang saya rasa. Ia kemudian menggeser foto kedua ke foto berikutnya. Saya melihat almarhumah istri si kakek tersenyum lebar sambil digandeng kanan kiri oleh seorang pemuda dan pemudi yang wajahnya hampir mirip. “Anak?” Tanya saya. Si kakek mengangguk lalu menghela nafas panjang. “Ahhh,,, dulu istri saya sangat senang dengan tanaman. Saya menyesal sudah menjual rumah kami yang berhalaman luas itu untuk pindah di apartemen. Sejak saat itu istri saya mulai saya sakit. Saya selalu bilang saya yang akan “pergi” duluan, tapi ternyata dia yang duluan meninggalkan saya” Katanya. Saya bingung harus memberi respon apa, hanya diam sambil terus menatap foto terakhir yang dia tunjukan. Dalam hati saya bergumam “ahhh.. kakek ini pasti kangen sekali dengan istrinya” dan membiarkan pikiran itu hilang begitu saja ketika kami sampai di gereja.

Khotbah hari ini bertemakan “끝을 없는  사랑” atau endless love. Cinta yang tak ada ujungnya. Firman Tuhannya diambil dari Roma 8 ayat 38 dan 39. Bukan ayat yang asing sebenarnya. Tapi Tuhan pakai ayat familiar ini untuk kembali “menggelitik” hati saya dan menyadarkan saya tentang apa makna cinta yang sebenarnya. Tentang kasih yang nggak bisa dipisahkan oleh apapun termasuk maut. Diingatkan tentang cinta nya Tuhan kepada saya (dan manusia lainnya) yang tidak terhalangkan oleh apapun. Meskipun itu harus melewati proses menyakitkan dan kematian. But in the end, His love won! Menang melawan maut dan kuasa-kuasa jahat dibalik itu semua. The best thing is His love will never change.

Dan definisi saya soal cinta yang unyu berubah. I mean, cinta kita dari dan ke manusia bisa berubah, bisa sirna, dan termakan waktu. Kata orang sih, cinta nya ga berubah, manusianya yang berubah.

Saya bersyukur bahwa saya boleh menerima cinta itu.

Love,

Tabita Marbun

P.S : This post was supposed to be posted on March 5th, 2017. But because one and thousand reasons it is posted today.  Anyway, Happy (belated) Easter! ^^

Bestie trip (Seoul Trip 2)

Setelah sekian lama ga update “part” ini, akhirnya hari ini saya bisa menulis kembali pengalaman seru saya bersama sahabat saya Caca di summer tahun lalu. So here is the advanced story.

August 16th, 2016

Karena hari sebelumnya kami seharian main di everland maka hari ini kami memutuskan untuk bangun siang, menikmati kasur guesthouse lebih lama hehehe. Selain itu kami juga pengin cuci-cuci. Mumpung guesthouse punya fasilitas mesin cuci dan tampaknya hari itu matahari “heboh” bersinar. Karena baik saya maupun caca punya trip selanjutnya setelah “bestie trip” kami di Korea. Sambil nunggu cucian kami selesai, kami sibuk dengan handphone kami masing-masing , nonton drama korea yang kelewatan hehehe.

Selesai cuci-cuci dan menjemur pakaian kami di rooftop, kami pun siap-siap untuk keluar. Tema trip kami hari ini adalah “girlish trip”. Itinerary kami hari itu adalah Ehwa Woman University. Konon kabarnya kampus ini terkenal dengan cewek-cewek stylish nan cantik rupawan. Jadi kami nggak khawatir gitu buat masuk ke kampus karena kami memenuhi kriteria mahasiswi kampus ini (jitak! tonjok!! tendang!!!). Karena mainnya ke woman university, maka kami pun menyesuaikan outfit kami hari itu, yaitu pake Rok! Alasan lain selain kena estrogen surge adalah karena kami merasa pake rok akan menimbulkan sensasi “lebih adem” daripada pake celana. Entahlah, intinya hari itu kami berkeliaran dengan rada feminim.

Kami sampai di daerah Ehwa Woman University sekitar jam makan siang dan memutuskan untuk mencoba street food. Si Caca pengin banget mencoba tteokppokki yang dijual di pinggir jalan, maka melipirlah kami untuk makan tteokppokki, sundae (usus babi yang diisi mie), plus jerohan, dan juga twigim (gorengan kali ya kalo di Indonesia). Teriknya matahari Seoul di tengah-tengah musim panas nggak menghentikan lahapnya kami “menghabisi” tteokppoki dan teman-temannya ini.

Puas mengisi perut, kami memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar Ehwa university. Karena Ehwa adalah women university, maka disekitar kampus isinya adalah toko-toko baju, toko aksesoris, toko kosmetik, nail shop dan semua-semua yang “berbau” wanita. Di tengah jalan-jalan mendadak si caca dapat “panggilan alam”. Bingung mencari toilet, akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke dalam kampus, meninggalkan jejak di toilet kampus heheheheh.

Thanks to Caca, kami jadi punya kesempatan untuk putar-putar dan foto-foto dalam kampus. Pretending to be Ehwa students. Kampus ini memang lokasi yang bagus untuk foto-foto. Bangunan-bangunan dengan gaya eropa dan taman-taman cantik di kanan kiri membuat kita merasa nggak seperti ada di Korea.

Keliling di sekitar kampus ini juga nggak kalah seru. Saya dan Caca berhasil belanja macem-macem dengan bahagia (saat itu). Kami dapat tas, rok, baju dengan harga yang murah.

Untuk pertama kali juga saya mampir ke Nail shop. Mumpung estrogen nya lagi banyak, saya mencoba untuk pertama kalinya yang namanya Nail Art. Kebetulan dapat nail shop yang harganya cukup bersahabat. Alhasil, 3o menitan kami ngadem di nail shop.

Sore harinya kami memutuskan untuk menemui teman SMA kami, Yanuar, yang sekarang sedang menimba ilmu di Hanyan University Seoul di daerah Konkuk Univ. Daerah sekitar Konkuk University ini memang terkenal sebagai daerah “in” nya anak muda. Daerah ini bisa dikatakan selalu ramai dan nggak pernah sepi.

Honestly, sempat khawatir bakal jadi obat nyamuk antara Caca dan Yanuar secara mereka dulu pernah punya “cerita” (ehm.. baca: mantan). Tapi nampaknya endingnya malah Caca yang kayanya rada jadi obat nyamuk, gara-gara saya dan Yanuar kebanyakan curhat soal kehidupan anak lab di Korea. Anyway, obrolan sore itu yang ditemani oleh Jukpal (kaki babi) dan dilanjut dengan kopinya Toms and Toms cafe seru banget .

Susah sampai di daerah sekitar Konkuk University, maka kami memutuskan untuk meneruskan perjalanan kami ke Hard Rock Cafe yang letaknya di Jamsil. Ceritanya Caca dapat titipan untuk beli beberapa kaos dengan signature “hard rock Korea”. Ketika Caca sibuk memilih-milih kaos, saya sibuk memperhatikan oppa-oppa ganteng yang jaga merchandise store saat itu. Lumayan bikin seger mata hehehehe

 

 August 17th, 2016

Kalau di hari ini rata-rata orang di Indonesia sedang mengikuti upacara, hari itu kami memutuskan untuk mengunjungi “spot wajib turis” di Seoul. Kami mulai trip hari itu dengan mengunjungi gwanghwamun square (광화문광장). Tempat ini terkenal dengan statue dari the great King Sejong dan Admiral Yi Sun-Shin nya. Karena masih dalam suasana hari kemerdekaan Korea (15 Agustus), gwanghwamun square pun indah berhias bendera korea.

Course kedua trip kami hari itu adalah, Gyeongbuk palace (경북궁), spot wajib untuk semua turis yang mampir ke korea. Letaknya tepat di seberang gwanghwamun square. Kami datang tepat saat pergantian penjaga istana, jadi kami punya kesempatan untuk foto-foto dengan para penjaga yang coolnya sama dengan para penjaga di Buckingham palace. No smile at all. Kami memutuskan untuk muter-muter di dalam palace, foto-foto di bangunan-bangunan uniknya yang kabarnya dibangun tanpa menggunakan paku sama sekali, foto-foto juga dengan para pengunjung palace yang menggunakan hanbok ; busana tradisional khas korea. For your information, apabila kita menggunakan hanbok ketika berkunjung ke palace semacam gyeongbuk palace ini maka kita akan dibebaskan dari biaya masuk. Cuma hari itu benar-benar panas dan kayanya lebih untung bayar 5000 won untuk admission fee drpada berpanas-panas di hanbok hehehe. Kami jalan sampai ke ujung gyeongbuk palace yang berujung pada Blue house. Kalau di Amerika ada White House, maka di Korea ada Blue House. Blue house merupakan istana atau  kantor kepresidenan Republik Korea Selatan. Kami cuma bisa melihat dari luar dan disekitar istana banyak polisi yang bertugas menjaga keamanan blue house. Walaupun begitu kami cukup puas berfoto dari jauh.

Menu makan siang kami hari itu adalah samgyetang (삼계탕). Di dekat gyeongbuk palace ada restoran yang terkenal dengan menu samgyetang nya, Tosokchon samgyetang  (토속촌 삼계탕) namanya. Biasanya untuk makan disini kita perlu mengantri cukup panjang saking laris dan terkenalnya restoran ini. Namun karena hari itu saya dan Caca datang sedikit lebih awal dari jam makan siang maka kami tidak perlu antri begitu lama untuk mendapatkan tempat duduk.

 

 

Setelah puas menikmati  samgyetang kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Insadong. Entah kenapa saya suka jalan-jalan di Insadong. Mungkin karena saya merasa seperti berjalan mundur ke masa lalu sambil dikelilingi manusia-manusia modern zaman sekarang? *ehm,, sok puitis*. Buat saya Insadong juga adalah tempat yang tepat untuk beli oleh-oleh khas Korea. Karena saya punya tradisi kalo ke suatu tempat dan ingin beli oleh-oleh atau kenang-kenangan harus yang standard (baca: gantungan kuci, magnet tempelan kulkas, kipas, atau dompet unyu) yang kadang nggak kepakai setelah diberi ke orang (hihihihihi). Ternyata untuk yang satu ini saya nggak seide sama Caca. Barang-barang yang dijual di Insadong nampaknya kurang menarik hatinya Caca. Jadi kami cuma jalan-jalan di sekitar Insadong sebelum berpindah menuju Hanok Village.

Jalan menuju Hanok Village dimusim panas bukanlah hal yang mudah. Panas terik matahari dicampur udara lembab dan minimnya angin berhembus membuat saya dan Caca cukup merasa kesulitan mencari dan berjalan menuju Hanok Village.  Di sepanjang jalan menuju Hanok Village kami melihat banyak orang “mengitari” daerah sekitar Hanok Village dengan menggunakan hanbok. Di satu sisi kami iri melihat mereka begitu cantik dan elegan nya menggunakan hanbok, namun di satu sisi kami bersyukur ga perlu jalan-jalan dengan baju berlapis hanbok di udara summer Korea yang panas dan super humid.

Di Hanok village, saya dan Caca mampir ke persewaan hanbok yang pernah saya datangi sebelumnya. Karena kami datang bukan di akhir pekan, kami nggak perlu antri untuk meminjam hanbok. Setelah “dipilihkan” hanbok yang sesuai dengan tinggi dan feature badan masing-masing, kami pun puas berfoto di spot-spot yang ada di tempat penyewaan hanbok. Kebetulan tempat persewaan hanbok yang kami datangi ini bergaya rumah tradisional korea karena terletak di tengah-tengah Hanok Village. Kami pun puas bergaya “gila” mumpung nggak ada siapa-siapa hehehe. Ketika kami hendak mengakhiri sesi foto-foto, kami nggak sengaja ketemu wanita cantik berwajah seperti boneka porcelain berhanbok yang juga lagi foto-foto di depan tempat persewaan kami. Kami pun berfoto bersama dengan si “mbak” yang ternyata turis dari Rusia. Fyi, pacarnya si mbak ini ganteng! (info ga penting!!) heheheh.

Dari Hanok Village kami pun lanjut menuju ke Samcheongdong (삼청동) menikmati pemandangan yang diisi dengan cafe, restoran, art galery maupun toko yang desainnya cukup unik-unik. Disini kami lupa dengan panasnya summer Korea karena asyik belanja hehehehe.

Menjelang sore kami memutuskan untuk mampir ke Namsan Tower secara kata orang belom afdol rasanya kalo ke Seoul tapi nggak main ke Namsan Tower. Perjalanan ke Namsan juga lumayan terasa berat karena kami transfer dari satu bus ke bus lain. Yang bikin berat karena kami harus menunggu bus datang ditemani sinar matahari terik. Sampai Namsan Tower kami cukup puas dengan hembusan angin yang cukup bikin kami “adem” hehehe. Maksud hati ingin menggantungkan gembok cinta di Namsan Tower namun apa daya kami nggak punya nama untuk ditulis disebelah nama kami. (baca: jomblo) hiks.. Maka kami pun harus puas dengan cuma foto-foto dilautan (lebay!) couple yang asyik foto-foto mesra sambil menggantungkan gembok cinta mereka.

Untuk makan malam hari itu saya sengaja mengajak Caca ke convenience store dekat dengan guest house kami untuk memperkenalkan budaya anak kos Korea hahahaha. Convenience store merupakan penyelamat bagi manusia manusia semacam saya di Korea, karena menjual lunch box dan kawan-kawannya dengan harga yang bersahabat untuk kantong mahasiswa macam saya. Malam itu entah kenapa kami memilih untuk makan mie instant daripada lunch box. Yang penting Caca dapat pengalaman makan di convenience store heheheh.

 

To be continued…

It’s 2017 everyone!!

It’s 2017 everyone!!^^

Mumpung masih bulan Januari (pasang muka kuda berkulit tebal), saya ingin mengucapkan “Happy new year!!”

Pergantian tahun 2016 ke 2017 terasa special buat saya karena saya menghabiskannya di pesawat menuju ke Singapore dalam rangkaian perjalanan pulang kampung saya di sebelah ai-ai (read: tante-tante) berlogat singlish kental yang umek sendiri bingung cari posisi enak di pesawat. Nggak ada countdown seperti yang saya bayangkan. Semua penumpang bingung sama selimut masing-masing.

Awal tahun 2017 juga saya habiskan di Indonesia dan lebih banyak dengan keluarga. Di awal tahun 2017 juga kami “sukses” menghabiskan liburan bareng keluarga setelah berapa lamaaa. The first family trip abroad juga dalam formasi komplit.

Tapiii…

saya masih punya banyak hutang cerita di tahun 2016 yang belom terselesaikan. Jadi salah satu resolusi saya adalah menyelesaikan cerita-cerita di tahun 2016 dan segera mengupdate trip saya selama di Indonesia awal tahun ini.

Anyway, May you be blessed to spend this new year with your parents, friends, loved ones! Happy 2017 everyone!! ^^

sambil tiup terompet telolet,

Tabita Marbun

Mom

Image result for quotes about woman and mom

 

Postingan kali ini bakal menceritakan pengalaman paling spektakuler dalam hidup saya. Are you ready to hear about it? Here it is…

November 25th, 2016

Pagi itu saya dapat pesan di kakao talk dari seorang teman dari Bangladesh yang satu mentoring program dengan saya. Dia bertanya ke saya siapa nama buddy teacher (Guru yang membantu mendampingi dia).  Pertanyaan yang cukup aneh memang. Karena sudah hampir setahun dia gabung di mentoring program dan dia nggak kenal siapa nama buddy teachernya. Intinya setelah saya memberi semua info tentang buddy teacher nya, satu jam kemudian dia menelpon saya lewat kakao talk. Dia minta saya menerjemahkan sesuatu kepada buddy teachernya. Karena teman saya ini, sebut saja namanya H tidak bisa bahasa Korea sementara buddy teachernya , sebut saya guru Y, tidak bisa bahasa inggris. Si H intinya ingin ke Gimcheon (Kota di sebelah Sangju; kira-kira 30-40 menit apabila naik mobil) dan mengunjungi salah satu rumah sakit di sana.  Istrinya si H sedang hamil dan rumah sakit di Sangju menganjurkan istrinya si H ini untuk nantinya melahirkan di rumah sakit di Gimcheon karena rumah sakit Sangju tidak punya fasilitas memadai untuk menolong proses persalinan. Si H menghubungi saya dengan nada terburu-buru, ngotot dan mendesak bahwa hari itu juga harus ke Gimcheon mengunjungi rumah sakit rujukan. Saya sempat panik dan mengira kalau hari itu juga istrinya H akan melahirkan. Nyatanya tidak, dia bilang dia cuma ingin mengecek rumah sakitnya hari itu juga dan dia ingin guru Y mengantarkannya ke Gimcheon. Si Guru Y mau mengantar dengan syarat saya juga mesti ikut pergi bersama-sama dengan mereka. Karena mereka butuh translator di tengah-tengah mereka.

Kebetulan hari Jumat kemarin saya dapat jatah mengisi di kelas experiment. Karena kelas experiment maka jadwalnya seharian sampai eksperimen selesai baru saya bisa meninggalkan lab.

Sempat merasa sebal karena merasa dipaksa dan menurut saya saat itu pergi ke rumah sakit hari itu bukan hal yang mendesak. Apalagi setelah dikorek teman saya ini cuma ingin  memastikan apakah rumah sakit di Gimcheon punya fasilitas yang lengkap dan bisa menerima klaim asuransi yang dia punya. Saya sempat menawarkan untuk menelepon rumah sakit yang bersangkutan karena menurut saya hal ini bisa diselesaikan cuma via telepon saja.

Yang bikin double sebelnya, si guru Y ini sampai telepon ke Prof saya untuk minta izin menemani mereka ke rumah sakit. Singkat cerita setelah telpon-telpon an antara saya, si guru Y dan prof saya, maka diputuskan bahwa kami akan ke Gimcheon hari Senin minggu depannya (tgl 28 November 2016). Saya pun menerima berita itu dengan berat hati dan ga rela. Mungkin sudah terlanjur Bete duluan.

Tapi saya diingatkan Tuhan bahwa Tuhan ingin saya punya hati yang mengasihi orang lain dan bukan cuma memikirkan nyamannya saya sendiri dari kisah Yunus dan orang-orang Niniwe saat bertugas di kebaktian sekolah minggu.

November 28th, 2016

We went to Gimcheon Jaeil Hospital (김천 제일 병원) that day. Pertama cuma saya, guru Y dan si H yang mau berangkat ke rumah sakit, tapi guru Y  berpikir bahwa akan lebih baik kalau istrinya si Y ikut juga untuk memeriksakan kandungannya. Berangkatlah kami berempat ke Gimcheon.

Sampai di rumah sakit mulailah tugas saya sebagai penerjemah antara dokter, H dan istrinya. Mulai dari menjelaskan hasil USG sampai menjelaskan kembali saran dan anjuran dokter. Bersyukur saya punya latar belakang (veterinary) medicine, jadi lumayan ga kagok ketika mendengar dan menjelaskan kembali istilah istilah kedokteran. Fiuh! But it’s not an easy task though. Puji Tuhan nggak ada masalah dengan kandungan dan ibu, tapi dokter menyarankan untuk kontrol seminggu sekali sampai ke due date dan melaksanakan pemeriksaan menyeluruh seperti pemeriksaan darah, urine dan juga xray yang terakhir untuk mengetahui secara jelas dan mantap tentang kondisi ibu dan calon bayi.

Di korea setiap wanita hamil berasuransi nasional berhak mendapatkan kartu atm (check card klo orang korea menyebutnya) yang setiap bulannya akan disupply oleh pemerintah sebanyak 500rb won (sekitar 500$). Pembayaran seperti USG, pemeriksaan kandungan, biaya persalinan menggunakan kartu ini pun mendapatkan banyak diskon. Jadi pemeriksaan menyeluruh tadi berakhir murah karena si H dan istri punya kartu ini.

December 2nd, 2016

Tanggal 28 November yang lalu guru Y meminta saya untuk menemani si H dan istri tiap kali mereka kontrol ke dokter. Tanggal 2 Desember adalah jadwal mereka untuk kontrol ke dokter. Saya menghubungi si H untuk bertanya tentang plan mereka ke Gimcheon besok. Supaya bisa bisa menyesuaikan jadwal tidur saya (Fyi, tgl 3 Desember adalah hari Sabtu yang merupakan waktu saya untuk tidur seharian! The only day saya bisa menikmati apa itu yang namanya tidur sampe siang dan cerianya guling guling di kasur doing nothing hehehehe).

Ternyata kali ini si H dan istri ingin mencoba ke rumah sakit sendiri. Saya sempat bertanya apakah mereka yakin mereka bisa ke rumah sakit sendiri, dan si H menjawab yakin bisa ke rumah sakit sendiri,.

Tidak ada berita sampai….

December 11th, 2016

Hari itu saya ingat sekali saya capek sekali. Badan seperti tidak mendengarkan apa isi hati saya. Seminggu sebelumnya lab kami repot dengan laporan akhir tahun untuk setiap project yang kami ikuti, ahhh ada dua ujian juga di minggu itu. Belum lagi saya harus mempersiapkan presentasi di Daejon hari Sabtu tanggal 10 Desember.

Entah karena masuk angin karena tanggal 10 kemarin saya presentasi dengan menggunakan busana dress yang walopun di desain untuk musim dingin tetep bikin menggigil karena udara di Daejon hari itu luar biasa dingin, atau karena merasa satu tugas sudah selesai jadi seolah-olah badan sudah menyelesaikan tugasnya dan berhenti untuk mendengarkan isi hati saya (lebay).

Hari itu selama di gereja saya merasa punggung saya sakit sekali, merasa melayang nggak nyentuh tanah (kuntilanak kali). Jadi begitu pulang gereja saya langsung tidur sampai kira-kira pukul 20.30 saya bangun. Masih setengah sadar setengah tidur saya mendapat pesan dari si H pukul 20.53. Intinya ketuban istri nya pecah, tidak ada darah. Dia minta saya untuk telpon ke rumah sakit apakah perlu untuk ke rumah sakit sekarang. Menurut saya sih saat itu waktunya ke rumah sakit, tapi saat itu saya nggak yakin (nahh,, oon kan ya?). Saya mencoba menelepon rumah sakit dari no telpon yang diberikan si H tapi nggak ada yang mengangkat. Mulailah saya heboh sendiri. Saya sampai tanya mama apakah perlu ke rumah sakit sekarang dan jawabannya adalah “Iya, segera!”. Saya mencoba menelepon guru Y tapi guru Y juga tidak menjawab telpon. Saya pun bingung dan mencoba menelepon buddy teacher saya. Istri buddy teacher saya adalah seorang suster di rumah sakit, dia mencoba mengarahkan saya untuk melakukan beberapa hal seperti menelepon 119 (911 klo di US). Dengan kostum seadanya yang keliatan mata untuk dipakai hari itu saya berlari (dalam arti sebenarnya) ke rumah si H yang jaraknya kira-kira 15 menit dari asrama. Sampai di rumah H, buddy teacher saya dan istrinya juga sudah sampai. Kembali saya jadi penerjemah ketika istri buddy teacher saya mengajukan beberapa pertanyaan. Ternyata ketubannya sudah pecah dua jam yang lalu. Saya dan istri buddy teacher saya sama-sama tepok jidat “Gusti, kok baru ngomong sekarang”. Nggak lama setelah kami menyiapkan keperluan yang kira-kira perlu dibawa ke rumah sakit, ambulance pun datang. Dua ambulance. Sebelumnya kami naik ambulance satu lalu dipindah ke ambulance yang lain. Saat itu nggak jelas kenapa mesti pindah ambulance. Later saya akhirnya tahu kalau kami dipindahkan ke ambulance milik pemerintah yang bebas biaya. Puji Tuhan!

Kalau anda bertanya kenapa saya juga ada di ambulance? Jawabannya sama karena mereka  butuh penerjemah. Ini pertama kali seumur hidup, saya naik ambulance. Wahhh,,, feelingnya masih nggak bisa saya lupa. Selama ini saya cuma bisa liat di film-film doang, hari itu saya mengalami sendiri. Salut sama paramedis yang bisa bekerja dalam situasi seperti itu. Kalau saya sih sudah mabuk duluan hehehehhe.

Di ambulance paramedis nggak bisa berbuat apa-apa ke istrinya si H karena yang bersangkutan nggak merasakan sakit, kontraksi bahkan gerakan si baby. Saya sempat khawatir. Jarak 40 menit malam itu cuma ditempuh dalam waktu 15 menit dengan ambulance.

Sampai di rumah sakit istri si H segera di pindah ke bagian obgyn setelah sebelumnya di periksa di emergency. Sampai di ruang tunggu bersalin, di perut istri si H dipasang semacam sabuk yang digunakan untuk mendeteksi kontraksi dan juga detak jantung si bayi. Lagi-lagi saya diminta untuk tinggal karena mereka butuh penerjemah. Saya pun ikut begadang di rumah sakit. Walaupun disediakan kasur di sebelah si calon ibu saya nggak bisa tidur. Ikut nyeri dan kesakitan rasanya waktu si ibu teriak-teriak kesakitan yang intensitas nya makin lama makin sering.

Pukul 05:10 si ibu dipindahkan ke ruang bersalin, saya diminta ikut masuk bersama-sama ke ruang bersalin. Sementara si H entah kabur kemana, nggak tega liat istrinya. 30 menit kedepan adalah pengalaman “spritual” tersendiri untuk saya. Selama ini saya sering liat dan membantu proses kelahiran bayi sapi, anjing, kucing dan hewan-hewan lainnya. Tapi ini pertama kalinya buat saya melihat bayi manusia dilahirkan ke dunia. Ikutan tarik nafas menghembuskan nafas ketika si ibu menarik nafas dan “ngeden”  berusaha mengeluarkan bayinya. Si ibu kali ini beneran teriak-teriak kesakitan yang bikin Bete si dokter dan suster-suster yang ada di ruang bersalin yang akhirnya ngomelnya ke saya (karena saya yang paham mereka ngomel apa). Akhirnya setelah perjuangan panjang dan kesakitan segala macam si bayi lahir dengan selamat pukul 05:32

Setelah selesai membantu proses istri si H bersalin, saya langsung teringat mama. Mama saya melahirkan 4 anak cewek dan semuanya lewat persalinan normal. Teringat betapa bandel-bandelnya kita, nggak mendengarkan kata-kata mama. Teringat betapa saya sering berantem sama Mama karena sama-sama keras kepala (hehehe). Tapi teringat juga mama selalu ada buat saya ketika saya sakit, mendoakan saya setiap hari dan jadi supporter terbesar dalam hidup saya. Ketika saya beranjak dewasa saya sadar bahwa mama adalah orang yang bisa saya ajak bicara untuk apapun yang kerjakan.

Saat itu juga saya kirimkan pesan ke mama ” Makasi ma sudah berjuang melahirkan Ita dan adik-adik~<3 I love you <3″

Hari ini tepat di hari Ibu (versi Indonesia), saya ingin menyampaikan sesuatu untuk Mama saya.

“Ma,

Walaupun Ita yakin setelah ini pun kita masih bakal sering berantem hehehe, bakal sering beda pendapat dan bakal sering cek cok satu sama lain.

Tapi Ita percaya cinta Mama buat Ita nggak berubah, demikan pula cinta Ita buat Mama.

Ita bersyukur Tuhan mengirim Mama untuk jadi Mama untuk Ita, Sara, Fena, dan Dena.

Terima kasih sudah jadi Mama yang baik untuk kami semua.

Selamat hari Ibu Mama sayang! ^^

I love you~ ❤

December 22nd, 2016

Tabita Marbun

If only…

Dua hari ini saya dalam kondisi yang mellow berat. Entah karena cuaca yang gloomy, cuaca yang melankolis, kondisi kerja yang hectic, stress yang berkepanjangan atau karena kondisi badan yang nggak fit.

Semalam saya menghabiskan malam saya dengan berlinang air mata. Merasa suffocated luar dalam. Bolak balik mondar mandir di kamar. Buka jendela lebar-lebar karena ngerasa nggak bisa nafas. Tapi nggak juga lega ketika udara dingin malam kemarin masuk ke paru-paru saya. Akhirnya saya tetap suffocated dan paginya saya kena serangan sakit kepala hebat. Flu.

Saya berusaha memukul-mukul pelan dada saya berharap merasa lebih baik. Tapi malah merasa depressed.

Berusah menelepon orang rumah, but they’re too busy to answer a call for me. Rejection! Saya merasa ditolak. Semua pikiran negatif muncul di kepala saya. People only call me when they need me. Cari hotel murah, jadi komunikator ke adik-adik, curhat ketika mereka bermasalah. Nggak ada yang mencari saya karena saya sendiri.

Malam kemarin terasa panjang. Saya berharap supaya matahari segera terbit tapi waktu nggak berlalu. Saya makin merasa tercekik.

Dalam tercekiknya saya, saya berpikir. I know it’s silly. but i cant help myself but to think about it.

Seandainya saya nggak kenal Tuhan apa yang akan terjadi dalam hidup saya?

Akankah saya hidup seperti saya tanpa perlu memikirkan image saya, orang tua saya apalagi image Kristus?

Mungkin saya bisa menyerukan sumpah serapah secara lantang ketika saya stress, capek, kesal bukan menahan dalam hati hanya karena seorang kristen tentunya bertutur lembut dan baik. Akankah saya merasa lega? merasa plong?

Mungkin saya nggak perlu untuk stay single seumur hidup seperti sekarang hanya karena berpikir bahwa pacaran itu hubungan yang sakral yang menyiapkan saya ke sesuatu yang namanya pernikahan. Nggak perlu mendoakan setiap orang yang berusaha mendekati saya. Nggak perlu peduli apakah dia seorang yang mengenal dan mencintai Tuhan. Nggak perlu peduli agamanya apa. Yang penting saya nyaman.

Mungkin saya bisa travelling dan bangun siang di hari Minggu. Istrahat cukup di Minggu nggak perlu ke gereja. Saving money. Nggak kasi perpuluhan.

Mungkin saya bisa punya banyak paper. Nggak perlu merasa bersalah kalau nama saya ada dalam paper yang bahkan saya nggak tau klo paper itu exist. Toh, semua orang kaya gitu.

Mungkin..

Mungkin…

Mungkin,,,

Mungkin saya cuma depressed~

Bestie trip (Seoul Trip 1)

Collect moment, not things!

 

August 14th, 2016

Setelah puas “menyeruput” strawberry banana smoothie di smoothie king, saya dan Caca pun melanjutkan perjalanan kami ke Seoul. Saya sengaja mengajak Caca untuk menggunakan KTX sebagai transportasi kami untuk menuju Seoul. Alasan pertama adalah karena KTX disebut-sebut sebagai kereta tercepat ke empat di dunia setelah Shinkasen nya Jepang, TGV nya Perancis dan Shanghai Maglev train nya Cina. Alasan kedua adalah naik KTX ke Seoul dari Busan makan waktu yang bisa dibilang singkat, jadi bisa hemat waktu di jalan dan digunakan untuk jalan-jalan ke tempat lain. Alasan terakhir karena kenyamanan adalah yang terutama, khususnya ketika (badan) anda mulai menua (ehem.. uhuk,, *batuk batuk*).

Kami naik kereta jam dua siang yang ternyata nggak seramai yang saya duga. Mungkin karena kami “naik” ke Seoul di tengah-tengah golden weekend. Mungkin akan beda ceritanya kalau kami berangkat satu hari sebelum atau sesudah nya. Sempet deg-deg an karena masih teringat-ingat “부산행” alias Train to Busan, film yang saya tonton terakhir ketika saya mengurus visa Jepang di Busan. Info ga pentingnya, saya beberapa kali mencoba menghitung berapa menit waktu terlewati setiap kali melewati terowongan (yang sudah nonton film ini pasti paham kenapa hehehehe). Saya dan Caca duduk bersebelahan dannnn dapet jackpot pemandangan indah, di kursi seberang duduklah dengan manis cowok ganteng berwajah idol. Duhhhh… sepanjang perjalanan kadang curi-curi pandang cari pencerahan HAHAHAHAHAHAHAHA. Caca sepertinya capek karena semalaman ga bisa tidur nyenyak selama di sauna dan menghabiskan waktu di kereta dengan tidur. Saya? Saya nonton we got married episode kemarin yang belom sempat saya tonton sambil curi-curi pandang liat mas-mas sebelah saya sambil berharap mas itu turun di Seoul juga (ckckckck kasian!!).

Setelah kurang lebih 2,5 jam perjalanan kami tiba di Seoul station. Cuaca mendung dan sedikit gerimis nggak menyurutkan semangat kami untuk foto-foto di depan Seoul station. Peduli amat dengan tatapan orang-orang, toh kami ini turis!! hehehehe. Capek (dan malu) foto-foto di depan Seoul station, saya dan Caca memutuskan untuk menuju ke guesthouse tempat kami menginap, Banana backpackers! (recommended ini guysss!! :).

Malamnya setelah ngecharge energi dan baterei handphone (hihihihi) di guesthouse, kami menuju ke Myeongdong untuk mengikuti misa di Myeongdong Cathedral. Salah satu katedral tertua dan punya histori tersendiri di Korea. Saya sudah beberapa kali ke sini tapi hanya untuk foto-foto di depan atau beli waffle di dekat situ. Ini pertama kali nya saya ikut ibadah di sini. Walaupun bukan menganut agama Katolik tapi saya cukup dekat dengan misa. Pakdhe dan adik eyang saya beragama katolik, saya pun beberapa kali mengikuti misa. Jadi nggak ada masalah! Yang bikin nervous adalah misa ini dalam bahasa Korea. hehehehe Bercita-cita bisa jadi translator buat Caca juga dalam hal ini. Tapiii… sepertinya itu sulit heheheh.

Pertama kali masuk ke dalam katedral langsung tercengang dengan interior katedral yang luar biasa cantik. Klasik dan “anggun” banget. Kami duduk di barisan (lumayan) depan. Sepanjang misa, Caca yang lebih banyak jadi “translator” buat saya tentang tata cara ibadah. Tapi saya masih ingat pesan firman hari itu tentang menjadi pelaku firman bukan pendengar doang dan terus mencari cinta mula-mula kita ke Allah (Amin!).

Selesai Misa kami foto-foto lagi karen ternyata katedral makin malam makin cantik. Puas foto-foto kami memutuskan untuk makan 명동 교자 (myeondong kyoja) yang letaknya nggak jauh dari katedral. Saya happy banget karena saya bisa pesan 만두 a.k.a dumpling yang sebelumnya nggak saya pesan karena saya makan sendiri. Tentu saja menu utamanya tetap 칼국수 ( baca : Kalguksu, knife-cut wheat flour noodles). Saya makan dengan lahapnya (seperti biasa babi ngoookk), sementara Caca makan cuma sedikit. Memang sih porsinya gedhe banget hehehehe.

Kenyang dengan kalguksu dan mandu, kami pun mencoba “melancarkan” pencernaan (perut dan dompet hiks) dengan menikmati Myeongdong di malam hari. Hari itu seperti biasa ada banyak orang (mayoritas turis CH). Setelah belanja ini itu kami memutuskan untuk pulang dan bobok cantik. What a long day!

August 15th, 2016

Kami bangun pagi-pagi hari itu. Kemarin setelah kontak Eun bi dan diskusi ini itu, kami memutuskan untuk menghabiskan hari Senin (yang kebetulan saat itu sedang libur nasional dalam rangka memperingati hari kemerdekaan Korea) dengan jalan-jalan ke Everland. Akhirnya!! Setelah 3 tahun menghuni Korea, saya bisa ke tempat ini juga. Saya dan Caca janjian ketemu Eun Bi di Kangnam station untuk melanjutkan perjalanan (panjang) kami ke Everland. Sempet grogi nggak pernah terpikirkan dua sahabat (satunya sahabat saya di Indonesia, satunya sahabat saya di Korea) saya bakal ketemuan. Happy nya sudah kebayang dari sebelum berangkat. Nggak sabar pengin segera “main” di Everland. Ternyata setelah mereka berdua ketemu semuanya berjalan natural aja walaupun komunikasi agak terhambat di bahasa hehehe. Tapi nggak menghalangi kami untuk menikmati hari itu dan ketawa cekikikan seharian hehehehe.

Hari ini kami banyak menerima kemujuran. Udara nggak se”panas” hari-hari sebelumnya. Hari itu lumayan mendung jadi nggak seberapa kepanasan. Saya dapat tiket murah karena ternyata Everland menawarkan diskon untuk para mahasiswa termasuk mahasiswa pasca sarjana macam saya ini, Eunbi dapat potongan diskon dari kartu kredit yang dia pakai, dan Eunbi pun berhasil mencarikan caca tiket murah di Internet. Ada banyak orang di everland, tapi kami masih bisa naik di beberapa wahana yang kami ingin naiki. Yeay!!

Saya pun bisa mengunjungi Safari land~ tempat yang saya idam-idamkan semenjak saya jadi penghuni sementara di Korea. Walapun ga naik the famous roller coaster nya everland yang terbuat dari kayu, tapi kami sempat “ngicip” (baca : mencicipi) dengan coba versi VR nya hehehe.

Sayangnya, kami nggak bisa melihat parade terakhir karena terburu jalan subway yang berhenti lebih awal dikarenakan hari libur. hehehe

It was so fun! Kayanya gambar akan lebih menjelaskan semuanya daripada kata-kata! 🙂

hehehehehe

 

To be continued…

Excuses~

Hi all!

It’s been 2 months since the last time i updated this blog~

Hidup tanpa supervisor di lab ternyata nggak se”indah” bayangan saya guys. Supervisor (baca: professor) saya sedang dalam “sabbatical leave”, sebuah period dimana professor saya meninggalkan kampus dan lab dalam jangka waktu tertentu (dalam case Prof saya 6 bulan). Saya pikir ketika Prof nggak ada di kampus, kerjaan bakal lebih santai. No! Kerjaan sama aja bedanya hati saya yang melemah. hehehehe Nggak niat ngapa-ngapain padahal ada kerjaan seabrek di depan. (Jangan ditiru yaaa!!)

Dua bulan ini saya sibuk kuliah, ujian, eksperimen, ke farm tiap hari. Ketika saya punya free time, saya sekarang cenderung menghabiskan waktu dengan tidur. Satu hal yang dulu nggak jadi favorit saya, tapi sejalan berjalannya waktu (dan umur saya) hal ini jadi hal termanis di tiap hari Sabtu. Free time di hari Sabtu adalah hadiah yang luar biasa buat saya.

Akhir-akhir ini saya sama sekali nggak update blog dan ngepoin blog-blog langganan saya. Hehehehe Saya lebih tertarik liat Park Bogum dan Ha suk jin di tivi sambil rebahan di kasur. Oh yaa.. saya lagi seneng liat 문제적인 남자 (problematic men), salah satu reality show di TvN yang konten nya tentang menyelesaikan soal-soal yang biasa kita liat di IQ test dan kawan-kawannya. Aslinya cuma demi liat Ha suk jin yang jadi cast tetap di situ (ahayy,,, dasar wanita!) tapi lama-lama jadi ketagihan untuk ikutan menyelesaikan soal-soal di situ (Okay! you can called me NERD! GEEK or whatever you want to call me heheheh).

Belakangan ini saya juga suka dengerin lagu-lagunya B1A4 (Boyband man! Umur berapa coba masih suka Idol?? hehehehe) dan lagu-lagu ciptaannya Jinyoung (leader B1A4, the charismatic Kim Yoon Sung di 구르미 그린 달빛 (moonlight drawn by the cloud)) setelah dengar salah satu lagu ciptaan nya yang jadi OST di drama Moonlight drawn by the cloud. Oh ya, kembali jatuh cinta sama lagu-lagunya peppertones, urban zakapa dan Far east movement! Lagu-lagu mereka adalah penyemangat saya ketika saya eksperimen, jalan ke farm atau nggarap tugas, belajar dan nyiapin presentasi.

Okay, stop ngomong randomnya! Kembali ke tujuan awal! hehehehe

Sebenarnya ada banyak hal yang ingin saya share di blog ini tapi terhalang oleh satu hal, MALAS!! hehehhe. Ada banyak peristiwa yang belum selesai saya ceritakan. Trip saya bareng Caca, Conference-holiday di Fukuoka, Birthday blesses, handicapped trip ke Jeju, dan banyak hal lainnya.

Hari ini saya diingatkan lewat sahabat saya si Nopek kalau blog saya sudah lama terbengkalai. Kalau blog ini benda 3D, maka sudah banyak sarang laba-laba dan debu yang menempel di sana-sini.

Pelan tapi pasti, saya janji untuk mengupdate blog ini secara rutin lagi~

Just wait for it!!!

 

Yang lagi happy liat daun-daun berubah warna,

Tabita Marbun